Mungkin sebagian wanita dewasa sudah familiar dengan test TORCH. TORCH merupakan singkatan dari (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplex virus II (HSV-II). Test tersebut biasa dilakukan wanita yang sedang mengikuti program hamil agar bisa diketahui apakah wanita tersebut terinfeksi virus atau parasit yang ada dalam TORCH.
Singkat cerita di awal tahun 2015, saya berangkat ke tanah suci. Sebelum keberangkatan saya test kehamilan sampai 4 kali dan hasilnya negatif. Tidak diduga sepulangnya saya dari Makkah, saya pusing dan mual-mual seperti orang ngidam, dan setelah di USG, ternyata saya positif hamil 6 minggu.
Setelah dinyatakan positif hamil, saya minta dokter untuk memberi rujukan agar saya bisa cek lab lengkap, termasuk TORCH. Awalnya dokter bilang saya sudah terlanjur hamil jadi sepertinya tidak usah untuk test TORCH. Namun saya tetap ingin melakukan test itu, semata-mata ingin membuktikan bahwa saya bebas dari parasit dan virus TORCH. (Khususnya pembuktian kalau saya bebas dari parasit Toksoplasma, yang sering orang-orang ributkan karena saya memelihara kucing hehe)
Selang 2 hari, hasil lab pun keluar dan hasilnya benar, saya bebas dari Toksoplasma. Akan tetapi, ternyata dalam kertas tersebut tertulis igg dan igm saya pada kolom CMV positif. Dalam perjalanan pulang, saya bertanya-tanya, apa sebenarnya CMV itu? Virus seperti apa dan apa dampaknya. Sesampainya di rumah, saya googling hampir seharian dan dari hasil pencarian tersebut, saya jadi takut dan frustasi akan kehamilan saya. Kesimpulannya, CMV adalah keluarga dari virus herpes, namun CMV tidak menunjukan gejala fisik. Jadi sebagian besar orang dewasa pun pernah terinfeksi virus ini, namun tidak terdeteksi karena gejalanya mirip seperti flu. CMV tidak terlalu berdampak atau membahayakan bagi orang dewasa yang memiliki imun yang baik, namun, ini menjadi bahaya bagi Ibu hamil di trimester awal karena kemungkinan janin dapat tertular. Virus ini akan menyebabkan kerusakan syaraf mata dan otak, oleh karena itu ibu hamil apalagi yang mengandung di awal kehamilan sangat dikhawatirkan terinfeksi CMV.
Saya kacau dan galau sekali dengan semua yang saya baca. Suami saya menyarankan saya untuk tetap tenang, tapi sulit sekali rasanya untuk tenang (hehe mungkin bawaan orok).
Keesokan harinya saya coba konsul ke dokter lain. Di dokter kedua ini, saya diberikan antivirus. Dokter ini baik sekali dan berusaha menenangkan saya. Beliau berpesan saya tidak boleh stres agar bayi saya happy juga di dalam perut. ️️Saat di USG yang kedua ini, janin saya sudah mulai ada detak jantungnya. Dokter bilang ini baik-baik saja.
Selang seminggu antivirus habis, saya konsul lagi ke dokter (dokter ketiga, rekomendasi dari teman). Saya menjelaskan keadaan saya sebelumnya dan baru saja saya menghabiskan antivirus yang diberikan dari dokter kedua. Dokter ini ramah dan suka bercanda. Saat USG beliau pun bilang kalau kasat mata janin saya ini sehat, detak jantung ok dan lain sebagainya. Setelah USG, dia melihat kembali kertas hasil lab saya dan saya tidak menduga sebelumnya beliau berkata, "Ibu, saya berikan rujukan agar Ibu cek lab lagi ya, walaupun sebenarnya ini sudah telat karena Ibu sudah terinfeksi, tapi ga ada salahnya di cek lab lagi, mungkin kecil jumlahnya. Atau Ibu juga bisa mempertimbangkan ulang kehamilan Ibu". Saya bilang, "mempertimbangkan?". Si dokter menambahkan "ya, dilanjutkan atau dihentikan saja, karena anak ibu kemungkinan terlahir cacat. Di USG ga terlihat karena virus ini memang menyerang syaraf".
Seperti disambar petir di siang bolong, berasa tertampar sekeras-kerasnya dengan pernyataan dokter tersebut. Bagaimana seorang dokter bisa menyarankan saya untuk "menghentikan" kehamilan yang dia nyatakan sehat dalam proses USG. Sedih!
Dalam keadaan hamil awal yang agak "loyo" dan pikiran yang luar biasa stres saat itu, Alhamdulillah suami saya terus menenangkan saya. Saya ingat pesan suami saya yang kurang lebihnya:
1. Sebagai manusia, kita wajib berusaha sebaik2nya. Dalam kondisi hamil, saya harus berusaha se-happy mungkin, makan makanan yang bergizi dan selalu berpikiran positif.
2. Apapun yang akan terjadi, pada akhirnya kita, sebagai manusia harus berserah, berpasrah kepada Allah swt.
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu Termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Q.S. Al-Isra: 85)
Seminggu setelah kondisi saya lebih tenang, saya dan suami memutuskan pindah dokter dan RS. Akhirnya kami berkonsultasi dengan dokter Mira di RS Bunda Margonda. Alhamdulillah dokter cantik ini selalu menenangkan saya dan detail sekali menjelaskan setiap saya konsul.
Sejak saat itu, sampai menjelang kelahiran, dalam hati saya selalu ada rasa takut dengan perkataan dokter yang mengatakan bahwa anak saya akan terlahir cacat. Menarik nafas panjang lalu berdoa kepada sang Maha Penguasa, Maha Baik, Maha Penolong agar janin dalam kandungan saya bisa lahir sehat, sempurna, lengkap tanpa cacat dan mewarisi sebaik-baiknya sifat mama papanya, dan para pendahulunya.
Alhamdulillah, pada 6 September 2015, Allah kabulkan doa kami.
No comments:
Post a Comment