Pada 6 September 2016, tepat Senja berusia 1 tahun. Tidak ada perayaan apapun untuk Senja. Untaian doa dari orang-orang yang mengasihi dan menyayanginya menjadi lebih banyak terdengar di hari itu.
Pada hari itu, saya mengajak Senja untuk bersilaturahmi dengan Mama angkat saya (biasa saya sapa Ibu) dan kami berencana mengunjungi panti yang dekat dengan tempat pertemuan kami tadi di daerah Kebayoran Baru. Nama pantinya, Panti Asuhan Sayap Ibu.
Panti asuhan ini terbilang sudah lama berdiri. Gedungnya bagus, lingkungan sekitarnya bersih. Saat kami masuk, ada resepsionis yang menyambut kedatangan kami. Perhatianku tertuju ke sebelah kiri ruang depan panti. Ya, ada sepasang suami istri negro menggendong bayi mungil. Si ibu menimang bayi tersebut, ditemani sang suami yang ikut menyapa bayi tersebut dengan candaan kecil yang dibuatnya. Perasaan haru mulai menyeruak di hati ini.
Selanjutnya, saya ditanya oleh resepsionis apa keperluan saya datang. Saya hanya ingin berkunjung. Saya sodorkan kue ulang tahun, dan saya titipkan untuk anak-anak panti ini. Saya utarakan anak saya hari ini berulang tahun, namun tidak ada perayaan apapun.
Lalu kami diantar masuk ke dalam panti. Karena kami datang siang hari, anak-anak panti sedang tidur siang. Akhirnya kami hanya melihat mereka sedang tertidur dari balik jendela. Ada beberapa kamar tidur yang dibagi berdasarkan kisaran umur. Saya, sambil menggendong Senja, bediri di depan kamar bayi. Ada 4 bayi saat itu. Satu bayi sudah mulai bangun, dia sepertinya berumur 3-4 bulan. Bayi itu bangun dari tidurnya, lalu dia mulai memiring-miringkan badannya seperti ingin tengkurap. Ada satu bayi lagi yang terbangun dan dia seperti melihat ke arah saya. Saya lambaikan tangan saya, namun Ibu panti bilang bayi itu buta sejak lahir. Kemudian saya bergeser ke jendela kamar berikutnya yang berisi anak-anak berusia di atas 1 tahun. Beberapa dari mereka cacat bawaan. Mereka melihat ke arah saya dan tersenyum. Perasaan saya makin diaduk-aduk melihat tatapan polos para malaikat kecil itu.
Ibu panti menjelaskan bahwa anak-anak ini ada yg berasal dari RS (ditinggal pergi oleh Ibu nya setelah melahirkan), ada yg ditemukan warga dan ada juga yang ditaruh di depan pintu panti asuhan.
Masih di depan jendela kamar, saya bisikan ke Senja, "Senja, Senja harus bersyukur ya, nak. Senja masih punya Mama dan Papa".
Bersyukurlah kita yang sejak kecil diberikan kesempatan untuk dipeluk dan dikasihi oleh Ibu Bapak kita. Jika orang tuamu masih hidup, muliakanlah mereka. Peluk, sayangi, dan ucapkan kata sayang pada mereka.
Teman-teman, jika ada waktu luang dan kelebihan rezeki, kunjungilah panti-panti. Kita bisa banyak belajar dan bersyukur disana.
Semoga bermanfaat.
Ade
Pada hari itu, saya mengajak Senja untuk bersilaturahmi dengan Mama angkat saya (biasa saya sapa Ibu) dan kami berencana mengunjungi panti yang dekat dengan tempat pertemuan kami tadi di daerah Kebayoran Baru. Nama pantinya, Panti Asuhan Sayap Ibu.
Panti asuhan ini terbilang sudah lama berdiri. Gedungnya bagus, lingkungan sekitarnya bersih. Saat kami masuk, ada resepsionis yang menyambut kedatangan kami. Perhatianku tertuju ke sebelah kiri ruang depan panti. Ya, ada sepasang suami istri negro menggendong bayi mungil. Si ibu menimang bayi tersebut, ditemani sang suami yang ikut menyapa bayi tersebut dengan candaan kecil yang dibuatnya. Perasaan haru mulai menyeruak di hati ini.
Selanjutnya, saya ditanya oleh resepsionis apa keperluan saya datang. Saya hanya ingin berkunjung. Saya sodorkan kue ulang tahun, dan saya titipkan untuk anak-anak panti ini. Saya utarakan anak saya hari ini berulang tahun, namun tidak ada perayaan apapun.
Lalu kami diantar masuk ke dalam panti. Karena kami datang siang hari, anak-anak panti sedang tidur siang. Akhirnya kami hanya melihat mereka sedang tertidur dari balik jendela. Ada beberapa kamar tidur yang dibagi berdasarkan kisaran umur. Saya, sambil menggendong Senja, bediri di depan kamar bayi. Ada 4 bayi saat itu. Satu bayi sudah mulai bangun, dia sepertinya berumur 3-4 bulan. Bayi itu bangun dari tidurnya, lalu dia mulai memiring-miringkan badannya seperti ingin tengkurap. Ada satu bayi lagi yang terbangun dan dia seperti melihat ke arah saya. Saya lambaikan tangan saya, namun Ibu panti bilang bayi itu buta sejak lahir. Kemudian saya bergeser ke jendela kamar berikutnya yang berisi anak-anak berusia di atas 1 tahun. Beberapa dari mereka cacat bawaan. Mereka melihat ke arah saya dan tersenyum. Perasaan saya makin diaduk-aduk melihat tatapan polos para malaikat kecil itu.
Ibu panti menjelaskan bahwa anak-anak ini ada yg berasal dari RS (ditinggal pergi oleh Ibu nya setelah melahirkan), ada yg ditemukan warga dan ada juga yang ditaruh di depan pintu panti asuhan.
Masih di depan jendela kamar, saya bisikan ke Senja, "Senja, Senja harus bersyukur ya, nak. Senja masih punya Mama dan Papa".
Bersyukurlah kita yang sejak kecil diberikan kesempatan untuk dipeluk dan dikasihi oleh Ibu Bapak kita. Jika orang tuamu masih hidup, muliakanlah mereka. Peluk, sayangi, dan ucapkan kata sayang pada mereka.
Teman-teman, jika ada waktu luang dan kelebihan rezeki, kunjungilah panti-panti. Kita bisa banyak belajar dan bersyukur disana.
Semoga bermanfaat.
Ade
No comments:
Post a Comment